Tag: Rlwc

Lingkar Penulis Senemu

(img credit: Sapta P.) It’s been almost two years since my last writing-spree at the now in-memoriam Reading Lights with Reading Lights Writer’s Circle. I remember my first day at the circle. It was Saturday afternoon, the rain slowly pouring as I walk pass the glass-door and awkwardly browsing through the room trying to find anyone look like a writer. Really, how distinct will that person be, angie! Turns out…

Continue Reading

Reading Lights’s Last Day

Yesterday I read on Facebook that Reading Lights, the place where I found my writing haven among the best of friends, is closing for good. I remember my first time there, when the barista told me to just went backyard where Reading Lights Writers Circle used to run their writing weekend. I was so nervous! But when I saw everyone’s faces, write my stories and read it to them, my fear…

Continue Reading

Diam bukan berarti benci

RLWC (15/10/2011) tema: membuat fiksi dari tokoh nyata Kulitnya gelap, langkahnya tegap seolah menyokong tinggi badannya yang mendekati 180-an sentimeter. Dengan usia nyaris menginjak 30, dia tampak 10 tahun lebih muda. Hari-hari baginya berlalu dalam lautan sketsa. Siapa pun yang menarik matanya pastilah ia salin dalam sketsa. Jangankan satu, lusinan sketsa Yuki Isoya sang wanita idola dari Do As Infinity sudah marak menghias kamar kost yang hanya sepetak itu. Tuan…

Continue Reading

Aku Takut…

RLWC (24/10/12) tema: mengolah setting dari teman (bagasi corona ’70 dengan aroma makanan sisa) BRAG! Getarannya sampai terasa dalam perutku. Pintu itu di tutup lagi. Lagi-lagi tinggal bau pizza keju sisa kemarin temanku hari ini. Bahkan lelaki itu menolak untuk sekadar memaki padaku. Tidak seperti biasanya. Sedari pagi ia sibuk mondar-mandir di kota. Tidak tahu bicara dengan siapa saja. Tidak tahu apa lagi yang akan dilakukannya. Tidak mau tahu. Aku…

Continue Reading

Musuh yang Paling Dibenci

RLWC (08 /09/12) tema: musuh yang paling dibenci Arwen membalik lembar buku di depannya. Satu demi satu halaman membalur cuka di atas luka yang masih menganga. Foto-foto di situ sudah berusia lebih sebelas tahun tapi kenangan tentang Lody masih jelas di mata Arwen. “Kamu cantik deh, beli dimana itu baju?” bisik Lody suatu petang. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bagai gerimis di musim hujan, selalu mengarah pada percakapan panjang tanpa akhir. Arwen…

Continue Reading

Mengejar Merk di Balik Gaun

RLWC (01/09/12) tema: merk Roman membalik coretan peta yang digores Fial sepupunya. Di hadapnya berjejer warna-warna pelangi bertumpukan pola monokrom, tersusun indah. Menyusuri Shibuya seakan berjalan di dunia Alice in Wonderland. Asing…namun penuh aura magis yang membuatnya tak bisa berpaling. Sudah lama sekali ia ingin kesini. Selain Harajuku, Shibuya bisa jadi surga baginya. Semenjak ia kenal Mari Hiki, ia bagai tersihir aura fanatasi Shibuya. Kini ia ada disana. Sepucuk surat…

Continue Reading

Merah, putih, dan Dia

(RLWC 14/07/12)
tema: parodi dari kesialan yang ketika diingat kembali terasa lucu

T-shirt merah, vest putih dan denim skirt. 3 item yang akhirnya terpilih membalut tubuh delapan belasanku. Tahun maksudnya. Masih berkutat dengan dosen, geng cewek dan sejuta atribut kuliah lain. Termasuk atribut hati.

Continue Reading